Memerdekakan Diri dari Lomba Makan Kerupuk
Posted by jonru on 15 Agustus 2008
Pernahkah Anda berpikir, dari mana asal muasal lomba makan kerupuk, lomba balap karung, lomba panjat pinang, dan lomba-lomba lain yang bernuansa 17-an? Kalaupun pernah, saya yakin Anda akan sulit menemukan jawabannya.
Lagipula:
“Apa pentingnya membahas hal-hal seperti ini? Bukankah lebih baik kita bergembira ria setahun sekali, menikmati kebersamaan dengan para tetangga yang jarang terjadi di luar bulan Agustus? Tidak penting dari mana asal muasal lomba makan kerupuk, dan apa relevansinya dengan kemerdekaan. Yang penting, kegiatan seperti ini bisa mempererat tali persaudaraan dan keakraban, yang sudah sangat langka di zaman serba modern sekarang ini.”
Ya, alasan yang masuk akal. Namun ketidakpedulian kita terhadap hal-hal tertentu justru seringkali membuat kita terjebak pada hal-hal yang tidak efektif.
Saya berikan sebuah contoh: Prewedding. Ini adalah sesi potret memotret bagi sepasang calon pengantin menjelang Hari H. Tradisi seperti ini sebenarnya baru berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Artinya, ini bukan bagian dari syarat atau aturan yang harus diberlakukan bagi setiap calon pengantin.
Tapi coba perhatikan: Hampir semua calon pengantin masa kini ramai-ramai mengikuti “upacara prewedding”, seolah-olah tanpa kegiatan seperti ini maka pernikahan mereka tidak akan sah.
Contoh lainnya adalah pola pikir masyarakat kita yang beranggapan bahwa satu-satunya sumber rezeki adalah dari profesi karyawan atau pegawai negeri. Akibatnya, hampir semua orang berlomba-lomba mencari pekerjaan. Padahal lapangan kerja sangat sedikit. Bila tak diterima di manapun, mereka lebih memilih menjadi pengangguran ketimbang berjualan koran misalnya. Seorang teman saya di Sumatera, pernah menyogok seorang oknum pejabat senilai Rp 10 juta, hanya agar dia diterima bekerja sebagai guru SD di sebuah desa terpencil. Padahal, uang sebesar itu sebenarnya sudah sangat cukup untuk modal wirausaha di ibukota kecamatan yang lebih ramai.
Lomba makan kerupuk, lomba balap karung, lomba panjat pinang, prewedding, , pola pikir “pekerja”, adalah segelintir contoh tradisi yang telah kita ikuti, kita patuhi, tanpa pernah kita kritisi. Kita menjajah diri kita sendiri dengan tradisi-tradisi seperti itu. Dan kita tak bisa keluar dari lingkaran setan tradisi tersebut, bukan karena ada pihak lain yang menjajah kita. Kita justru tak mau memerdekakan diri kita sendiri, atas kesadaran dan kemauan kita sendiri.
Padahal yang kita butuhkan sebenarnya hanya satu hal: MENGUBAH MINDSET.
Untuk itu, prasaratnya cuma satu: OPEN YOUR MIND
Bila mindset sudah diubah, yakin deh
Kemerdekaan yang sebenarnya Insya Allah otomatis kita miliki.
Selamat HUR RI ke-63
Cilangkap, 15 Agustus 2008
Jonru
http://www.jonru.net









Agustus 15th, 2008 at 14:13
masuk akal juga
Agustus 15th, 2008 at 14:33
thanks ya
Agustus 15th, 2008 at 14:37
merdeka..!!!
Agustus 15th, 2008 at 14:44
setuju Pak Jonru..open your mind. kita masih terjebak dengan hal-hal yang seremonial, bukan merenungi kemerdekaan itu sendiri.
Agustus 15th, 2008 at 14:53
Lomba makan kerupuk, lomba balap karung, lomba panjat pinang, prewedding, , pola pikir “pekerja”, adalah segelintir contoh tradisi yang telah kita ikuti, kita patuhi, tanpa pernah kita kritisi.
itu memang segelintir contoh masih banyak lagi dan bisa ditambahkan yairu, perayaan ultah, tiup lilin,ngasih kado, nraktir saat ultah, sudah tradisi (tradisi siapa, agama apa? gak jelas lagi)……sebenarnya kalu dipikir pikir nraktir dan ngasih hadiah tidak hanya harus setahun sekali pada saat ultah saja, kapan pun kita punya rejeki kita bisa nraktir or ngasih hadiah
Agustus 15th, 2008 at 15:04
sory, telmi neh,, jadi maksudnya “Lomba makan kerupuk, lomba balap karung, lomba panjat pinang” lebih baik g ada? duh bingung mahaminnya…
kalo menurut pendapatku..
*untuk masalah prewedding, menurutku, itu sebenarnya bukan hal yg sia2 kok. karena apa, adakalanya seseorang ingin mengabadikan suatu peristiwa yg penting baginya dengan caranya mereka sendiri. so, y udah terserah mereka mw ngapain, aku pikir mereka punya alasannya. yg penting kan g melanggar norma2 yg berlaku. daripada mengkritik hal ini, mending mengkritik hal-hal seperti buang sampah sembarangan, melanggar lalu lintas, kkn, dan hal2 buruk lainnya yg masih membudidaya di lingkungan kita. sehingga paling g hal2 buruk tersebut dapat berkurang atau menurun.
*untuk mental pekerja, tiap orang kan punya tempatnya masing2. g mungkin kan smua orang jadi wiraswasta. kalo iya, yg jadi pekerja siapa donk. emang seh cara yg tadi nyogok di atas itu salah. tapi itulah kenyataan hidup bro. hal itulah yg menjadikan hidup itu bervariasi dan indah. kita g bisa berpendapat bahwa smua orang tuh punya pikiran yg sama dengan kita.
sory kalo g nyambung. no offense. peace ^^
SELAMAT HARI PROKLAMASI KEMERDEKAAN RI. ^^
Agustus 15th, 2008 at 15:11
scratchz,
menurut saya, ini bukan masalah baik atau tidak baik
Yang hendak saya sampaikan adalah: sebaiknya kita bersikap kritis terhadap segala sesuatu, jangan asal ikut tanpa alasan yang jelas
begitcu…
salam sukses ya…
Jonru
Agustus 15th, 2008 at 15:28
Anu Bang..
Saya sendiri sih belum pernah memikirkan dari mana asal muasalnya lomba-lomba 17an tersebut. Tapi, kalau bukan acara seperti itu, kira-kira apa alternatif lainnya ya? Yang sifatnya fun dan bisa diikuti mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek?
Jaman sekarang nyari kerja yang dapat uangnya sebulan sekali memang susah, tapi nggak sedikit koq kerjaan yang bisa ngasih uangnya sehari 3x atau lebih tanpa perlu keluar duit berjuta-juta dulu.
Kalau untuk mengubah mindset, setuju.
Merdeka!
Agustus 15th, 2008 at 15:44
Merdeka bang Jonru
Sebenarnya ga ada masalah dalam merayakan hari kemerdekaan dengan digelarnya lomba seperti makan kerupuk, balam karung atau panjat pinang, yang penting kita sama2 merasakan kesenagan walaupun hanya sesaat, dan itu juga salah satu menambah erat tali selaturahmi sesama tetangga. biasanya memang dibutuhkan biaya tuk acara sperti itu, ya memang acaranya “Dari kita untuk kita” so ga ada masalah.
Aku sependapat dng “scratchz” tuk prewedding memang bukan hal yang sis-sia, setiap orang punya kepuasan tersendiri dengan adanya preweding walaupun kudu ngeluarin kocek yang lebih, dan itu ga ada yang maksa jg ya namanya juga “Dari kita untuk kita”.
Mereka melakukan itu ada alasan tertentu yang memperkuat pendapatnya.
Gitu bang Jonru
sukses selalu
regards
Dian Novico,
Agustus 15th, 2008 at 15:48
Iya, memang benar, Pak. Saya juga selalu mengajak orang-orang di sekitar saya berfikir “di luar kotak”.
Kalau boleh saya menambahkan, bukan hanya dalam hal itu saja. Dalam bidang pendidikan, kita juga masih terpaku pada ‘ijasah’ dan lembaga ‘pendidikan’ formal. Sehingga mempersempit arti ‘belajar’ dan ‘pendidikan’. Padahal pola pendidikan di negara-negara maju sudah meninggalkan yang seperti itu.
Agustus 15th, 2008 at 15:52
Mas jonru, apa kabar?
menurut saya, sama halnya yg ditulis an di websitenya ttg bakar bus jika menabrak orang
http://anzarra.multiply.com/journal/item/1017/Busway_vs_Masyarakat
pemikirannya hampir sama dgn mas jonru
Merdeka
Agustus 17th, 2008 at 15:24
Apa yang salah dengan lomba makan kerupuk, lomba balap karung, lomba panjat pinang, dll? Kalau mengajak orang untuk berpikir mencari tau akar budaya darimana lomba2 itu berasal, bagus itu. Cuma kemudian menghubung2kan dengan kesalahkaprahan dalam melihat pre-wedding dtambah lagi dengan “kemalasan” orang untuk mengubah mindset dari pekerja menjadi wirausaha, menurut saya sih ga ada hubungannya sama sekali. Kalau memang tidak ada hubungannya, ya ndak usah dipaksain biar jadi tulisan begini. Apalagi melakukan justifikasi bahwa “ketidakpedulian kita terhadap hal-hal tertentu justru seringkali membuat kita terjebak pada hal-hal yang tidak efektif”
Agustus 18th, 2008 at 06:46
hendro wicaksono: saya tidak menghubung-hubungkan mereka
saya menyebut semua itu sebagai contoh
salam sukses ya
Jonru
Agustus 18th, 2008 at 13:21
Merdeka…!
Agustus 18th, 2008 at 14:02
bagiku merdeka = duit banyak, so bisa ngebantu orang untuk beli kerupuk he he he
Agustus 20th, 2008 at 07:53
Lomba-lomba “tujuhbelasan” semacam ini sebenarnya juga bisa menjadi “ladang penghasilan” lho…buat yang ingin jadi Entrepreneur.
Ayo…galakkan lomba “tujuhbelasan” ini, tidak hanya pada peringatan kemerdekaan RI, tapi kalau bisa setiap minggu bahkan setiap hari!
Ayo…calon Entrepreneur, siapa mau jadi EO lomba-lomba ini, bisa lumayan lho hasil keuntungannya. Kita bisa kerjasama dengan produsen kerupuk, karung, semangka, kecap, dll…
Salam Merdeka atau Sukses!
Wuryanano
September 8th, 2008 at 13:24
tergantung sudut pandang juga sih.
contoh : lomba panjat pinang.
anggap saja warisan belanda yang lebih suka melihat para mandor dan centeng injek sesama kawan (yang dibilang satu team) hanya untuk mendapatkan sebungkus mie, atau sepotong celana kolor. paling banter radio transistor dua band. disaat peserta asyik injek-injekan, belepotan lumpur untuk bisa menuju puncak pinang, si belanda sambil terkekeh-kekeh minum arak.
“waw..waw… loe olang pelibumi. sangat gampang diadu-domba ya…nei..nei..nei… ha..ha..”
ada juga dari sudut pandang lain, inilah perjuangan. setiap pribadi harus berlomba untuk menunjukkan kemenangan. dengan cara seperti ini, harus ada yang kalah. duh, senangnya si menang. kasihan deh, yang kalah. udah capek, kalah.
ada jugajuga sudut pandang lain lagi, untuk menang bersama-sama “mari kita bekerja sama”. semua harus menang, jangan sampai ada yang merasa dikalahkan. merdeka!!!
Nopember 12th, 2008 at 09:38
Khusus lomba makan krupuk, dengan berdiri, lompat-lompat dan diketawain dengan sengaja. ini saya tak setuju, tapi lainnya sih fun saja, asal tak keterlaluan. pasalnya maaf untuk makan kan ada aturannya, gunakan tangan kanan, duduklah dengan baik, bahkan sampai berapa kali mengunyahnya diajarkan Rasul. Dan jangan lupa berdoa dengan baik, bersyukur karena dapat rejeki maaf bila tak pas
Juli 16th, 2009 at 14:34
Submit tulisan anda di Kombes.Com Bookmarking, Agar member kami vote tulisan anda. Silakan submit/publish disini : http://kombes.com/browse_links.php Semoga bisa lebih mempopulerkan blog/tulisan anda!
Kami akan sangat berterima kasih jika teman blogger meberikan sedikit review/tulisan tentang Kombes.Com Bookmarking pada blog ini.
Salam hormat
Kombes.Com
Oktober 19th, 2010 at 10:30
nice your info..
Oktober 10th, 2011 at 12:31
setuju Pak Jonru..open your mind. kita masih terjebak dengan hal-hal yang seremonial, bukan merenungi kemerdekaan itu sendiri.
Oktober 10th, 2011 at 12:32
Khusus lomba makan krupuk, dengan berdiri, lompat-lompat dan diketawain dengan sengaja. ini saya tak setuju, tapi lainnya sih fun saja, asal tak keterlaluan. pasalnya maaf untuk makan kan ada aturannya, gunakan tangan kanan, duduklah dengan baik, bahkan sampai berapa kali mengunyahnya diajarkan Rasul. Dan jangan lupa berdoa dengan baik, bersyukur karena dapat rejeki maaf bila tak pas
Oktober 10th, 2011 at 12:34
Lomba-lomba “tujuhbelasan” semacam ini sebenarnya juga bisa menjadi “ladang penghasilan” lho…buat yang ingin jadi Entrepreneur.
Oktober 10th, 2011 at 12:35
Merdeka!
Oktober 10th, 2011 at 12:37
hendro wicaksono: saya tidak menghubung-hubungkan mereka
saya menyebut semua itu sebagai contoh
Oktober 25th, 2011 at 21:58
The personal loans seem to be very useful for people, which are willing to ground their own business. By the way, this is very easy to get a student loan.
Nopember 16th, 2011 at 18:37
I completely agree with you. I can set up my new idea from this post. It gives in depth information. Thanks for this valuable information for all. And of course nice review about the application.